Kamis, 03 Januari 2019

Tulisan Tak Jelas di Awang Awang



       
        Hanya ingin menulis yang tidak jelas, setidaknya masih

ada niatan untuk menulis, pernah saya membaca tulisan pram

yang mengatakan bahwa menulis merupakan peninggalan

terakhir manusia yang bisa di sumbangkan bagi seluruh

pembacanya atau apa ya saya lupa hahah, yang intinya

menulislaaahh kamu !! letakkan ilmu mu di percikkan tinta, 

tuangkan ilmu pengetahuanmu, percumah jika hanya di 

awang awang semua orang tidak akan paham apa yang kamu 

maksud. Saya sangat terinspirasi oleh penulis penulis yang 

bisa dengan mengutarakan kalimat kalimat yang jelas 

berdasarkan ilmu yg ia dapat, salah satu penulis inspirasi saya 

adalah Pramoedya Ananta Toer kemudian adiknya Soesilo 

Toer seorang Doktor mengutip pada wikipedia Seosilo pernah 

tinggal di Rusia sejak tahun 1962 s/d 1973 untuk 

menyelesaikan S2nya. Melanjutkan pasca-sarjana di Fakultas 

Ekonomi dan Politik Universitas Patrice Lumumba dan 

menyabet gelaran doktor dari Institut Perekonomian Rakyat 

Plekhanov dalam bidang ekonomi dan politik setelah 

mendalami filosofi ajaran Marxisme dan Leninisme terutama 

terkait dengan realisme sosial 

https://id.wikipedia.org/wiki/Soesilo_Toer .

          


           Bicara tentang Marx dan lenin pastinya anak muda dan 

orang tua tahu banyak hal tentang ajaran ajaran ini, tetapi 

semangat yang terlihat pasti akan lebih dominan pada anak 

muda jika berbicara tentang ajaran ini, hanya berdasarkan 

asumsi sendiri dan beberapa survei di kalangan muda, karena 

sejatinya jika orang tua mendengarkan/membaca Marx, lenin 

dan Marhaen kaum tani versi Soekarno dulu pasti kata yg 

keluar adalah PKI, komunis dan ateis atau apalah, saya 

sependapat dengan apa yg pernah di ungkapkan Soesilo Toer 

dalam Suara.com soesilo mengatakan "Seharusnya ilmu ya 

tetap ilmu, jangan ada yang menyangkut pautkannya dengan 

politik. Inilah mengapa yang menyebabkan intelektualitas serta 

kreatifitasnya menurun". sudahlah biarkan anak muda itu tau 

mendalam bagaimana sejarah, pengetahuan, teori. Sehingga 

nantinya pasti akan tau juga mana yang baik, itu menurut 

saya. Trimakasiiih sekian tulisan tak jelas ini saya tulis dihati 

yg paling tak jelas di awang awang.


Semoga kecantol bidadari 

di awang awang.


Makin tak jelaaaassss...


Maturnuwuuun.


Sing dadi Ayem Lan Tentrem




Selasa, 23 Oktober 2018

Happiness is a Problem

Mulai darimanaa... itu yg selalu berada di benak seorang budak  pikirkan, dimana selalu ingin mendapatkan kebahagiaan dengan hal hal yang harus dilakukan dengan cara ketidakbahagiaan, dapat masalah pecahkan, dapat lagi masalah kemudian pecahkan dan timbullah sedikit kebahagiaan begitu seterusnya.. muncul masalah dan pecahkan, kebahagiaan sementara akan muncul. Sebenarnya tulisan ini merepresentasikan hasil bacaan yg baru dimulai tetapi sudah berani menyimpulkan.. yaitu sebuah buku The subtle art of not giving a F*ck sebuah buku yang menurut sy self reminder untuk tidak terlalu ambisius dalam segala hal, buku ini betapa mendikte dan mengarahkan si pembaca untuk berpikir "sudahlah tidak semua orang bisa menjadi luar biasa , ada para pemenang dan pecundang di masyarakat dan itu bukan menjadi kesalahan individu tersebut" dari apa yang disampaikan Mark bisa sangat menjadi penenang bagi para pembaca dan juga menggugah betapa realistisnya pemikiran Mark untuk mengarahkan pola pikir pembaca, banyak juga diceritakan berdasarkan kisah kisah nyata dalam kehidupan, salah satu contoh yaitu Hiroo Onoda seorang prajurit Jepang yg gagah berani yang sangat setia kepada negara dan tidak mau menyerah bahkan setelah Jepang sudah menyatakan menyerah tetapi beliau tetap tidak mengakui kekalahan dan tdk percaya, tetap patuh pada perintah kaisar yang secara langsung memerintahnya untuk jangan pernah menyerah. Akhirnya selama 30 tahun beliau bergerilya dihutan Filipina yang berujung sia-sia setelah beliau kembali ke Jepang yg ternyata Jepang sudah menyerah sejak lama.